Selasa, 21 April 2015

PSIKOTERAPI TUGAS II (Artikel 4)

DASAR TEORI PSIKOANALISIS


Kesadaran


Secara harfiah, kesadaran sama artinya dengan mawas diri (awareness). Kesadaran juga bisa diartikan sebagai kondisi dimana seorang individu memiliki kendali penuh terhadap stimulus internal maupun stimulus eksternal. Namun, kesadaran juga mencakup dalam persepsi dan pemikiran yang secara samar-samar disadari oleh individu sehingga akhirnya perhatiannya terpusat.


Tingkat kehidupan mental menurut Freud terbagi dua tingkat:

          A. Alam Tidak Sadar (unconscious)

Alam tidak sadar menjadi tempat bagi segala dorongan, desakan maupun insting yang tidak kita sadari tetapi ternyata mendorong perkataan, perasaan, dan tindakan kita.

Baginya, alam tidak sadar meruapakan penjelasan dari makna yang ada di balik mimpi, kesalahan ucap, dan berbagai jenis lupa, yang dikenal sebagai Represi. Mimpi adalah sumber yang kaya akan materi alam tidak sadar.


B. Alam Sadar (conscious)

Alam sadar didefinisikan sebagai elemen-elemen mental yang setiap saat berada dalam kesadaran. Ada dua pintu yang dapat dilalui oleh pikiran agar bisa masuk ke alam sadar.

Pintu pertama adalah melalui sistem kesadaran perseptual, yaitu terbuka pada dunia luar dan berfungsi sebagai perantara bagi persepsi kita tentang stimulus dari luar.

Sumber kedua bagi elemen sadar ini datang dari dalam struktur mental dan mencakup gagasan-gagasan tidak mengancam yang datang dari alam bawah sadar maupun gambaran-gambaran yang membuat cemas, tetapi terselubung dengan rapi yang berasal dari alam tidak sadar.


Struktur Kepribadian


Stuktur kepribadian menurut Freud terbagi dalam tiga, yaitu:

1. Id

Id merupakan inti dari kepribadian yang sepenuhnya tidak disadari. Id tidak punya kontak dengan dunia nyata, tetapi selalu berupaya untuk meredam ketegangan dengan cara memuaskan hasrat-hasrat dasar. Ini dikarenakan satu-satunya fungsi id adalah untuk memperoleh kepuasan sehingga kita menyebutnya sebagai prinsip kesenangan. Oleh karena sifatnya yang tidak realistis dan mencari kesenangan, id ini tidak logis dan mampu memuaskan pikiran-pikiran yang saling bertentangan dari dengan lainnya.


2. Ego

Ego adalah satu-satunya wilayah pikiran yang memiliki kontak dengan realita. Ego berkembang dari id semasa bayi dan menjadi satu-satunya sumber seseorang dalam berkomunikasi dengan dunia luar. Ego dikendalikan oleh prinsip kenyataan yang berusaha menggantikan prinsip kesenangan milik id. Sebagai satu-satunya wilayah dari pikiran yang berhubungan dengan dunia luar, maka ego pun mengambil peran eksekutif atau pengambil keputusan dari kepribadian. Akan tetapi, oleh karena ego sebagian bersifat sadar, sebagian bersifat bawah sadar, dan sebagian tidak lagi sadar, maka ego bisa membuat keputusan di ketiga tingkat tersebut.


3. Superego

Supergo mewakili aspek-aspek moral dan ideal dari kepribadian serta dikendalikan oleh prinsip-prinsip Moralisasi dan idelais yang berbeda dengan prinsip kesenangan dari id dan prinsip realistis dari ego. Super egi berkembang dari ego, dan seperti ego, ia tidak punya sumber energinya sendiri. Akan tetapi, Sukerejo berbeda dari ego dalam satu hal penting, superego todak punya kontak dengan dunia luar sehingga tuntutan superego akan kesempurnaan pun menjadi tidak realistis.


Mekanisme Pertahanan Ego

1. Represi

Represi muncul ketika ego terancam oleh dorongan-dorongan id yang tidak dikehendaki, ego melindungi dirinya dengan merepresi dorongan-dorongan tersebut dengan cara memaksa perasaan-perasaan mengancam masuk ke alam tidak sadar.


2. Pembentukan Reaksi

Salah satu cara agar dorongan yang ditekan tersebut bisa disadari adalah dengan cara menyembunyikan diri dalam selubung yang sama sekali bertentangan dengan bentuk semula, mekanisme pertahanan ini disebut dengan pembentukan reaksi.


3. Pengalihan

Mengarahkan dorongan-dorongan yang tidak sesuai pada sejumlah orang atau objek sehingga dorongan aslinya tersebut tersembunyi.


4. Fiksasi 

Secara umum, pertumbuhan Psikis lazimnya bergerak secara kontinu melalui serangkaian tahap perkembangan. Akan tetapi, proses pendewasaan secara psikologis tidaklah bebas dari momen-momen yang penuh dengan stres maupun kecemasan. Jika melangkah ke tahap perkembangan lebih lanjut memunculkan kecemasan yang begitu besar, maka ego bisa mengambil strategi untuk tetap bertahan di tahap psikologis saat ini, yang lebih nyaman. Pertahanan seperti ini disebut fiksasi.


5. Regresi 

Pada saat libido melewati tahap perkembangan tertentu, di masa-masa penuh stres dan kecemasan, libido bisa kembali ke tahap yang sebelumnya. Langkah mundur ini dikenal sebagai regresi.


6. Proyeksi

Proyeksi didefinisikan sebagai melihat dorongan atau perasaan orang lain yang tidak dapat diterima, padahal sebenarnya perasaan atau dorongan tersebut ada di alam tidak sadar sendiri.


7. Introyeksi 

Introyeksi adalah mekanisme pertahanan di mana seseorang meleburkan sifat-sifat positif orang kain ke dalam egonya sendiri.


8. Sublimasi

Sublimasi merupakan Represi dari tujuan genital dari Eros dengan cara menggantinya ke hal-hal yang bisa diterima, baik secara kultural ataupun sosial.


Perkembangan Psikoseksual

1. Oral (lahir sampai 12-18 bulan)

Sumber kenikmatan bayi mencakup berbagai aktivitas yang berorientasi pada mulut (menghisap dan makan).


2. Anal (12-18 bulan sampai 3 tahun)

Anak mendapatkan keluasan sensual dari menahan dan mengeluarkan kotoran. Daerah kepuasannya adalah bagian anak, dan pelatihan toilet merupakan kegiatan yang penting.


3. Phalik (2 sampai 6 tahun)

Anak lekat dengan orang tua berbeda jenis kelamin dan kemudian melakukan indentifikasi dengan orang tua berjenis kelamin sama. Superego berkembang. Daerah kepuasan beralih ke daerah alat kelamin.


4. Latency (6 tahun sampai pubertas)

Waktu yang relatif tenang antara tahapan-tahapan yang lebih bergejolak.


5. Genital (pubertas sampai dewasa)

Munculnya kembali dorongan-dorongan seksual pada masa phalic, disalurkan ke seksualitas dewasa yang matang.


UNSUR-UNSUR TERAPI


Munculnya Masalah

 

Psikoanalisis sebagai teori dari psikoterapi berasal dari uraian Freud bahwa gejala neurotik lada seseorang timbul karena Tertahannya ketegangan emosi yang ada, ketegangan yang ada kaitannya dengan ingatan yang ditekan, ingatan mengenai hal-hal yang traumatik dari pengalaman seksual masa kecil.


Tujuan Terapi

 

Tujuan dari terapi psikoanalisis adalah untuk membentuk kembali struktur karakter individu dengan jalan membuat kesadaran yang tak disadari didalam diri klien dan fokus pada upaya mengalami kembali pengalaman masa kanak-kanak.


Peran Terapis

Peran terapis adalah berusaha untuk memahami klien sebagai sesuatu yang ada di dalam dunia ini.


TEKNIK TERAPI

1. Free Association

Asosiai bebas merupakan teknik utama dalam psikoanalisis. Terapis meminta klien agar membersihkan pikirannya dari pikiran-pikiran dan renungan-renungan sehari-hari serta sedapat mungkin mengatakan apa saja yang muncul dan melintas dalam pikirannya. 


2. Analisis Tranference

Transferens dalam arti sebenarnya adalah suatu bentuk ingatan dari kejadian-kejadian yang telah dialami dan yang diulang kembali dalam keadaan sekarang atau yang akan datang. Pada saat seperti itu, pada saat pasien sedang menghubung-hubungan hambatan yang di alami dengan konflik yang terjadi di bawah sadar mengenai harapan-harapan terhadap seseorang atau beberapa orang yang muncul Dan menimbulksn kesan becampur-campur.


3. Analisis resistens

Resistensi adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tidak disadari. Selama asosiasi bebas dan analisis mimpi, klien dapat menunjukkan ketidaksediaan untukmenghubungkan pikiran, perasaan, dan pengalaman tertentu.


4. Analisis Mimpi

Analisis mimpi adalah prosedur atau cara yang penting untuk mengungkap alam bawah sadar dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Selama tidur, pertahanan-pertahanan melemah, sehingga perasaan-perasaan yang dipres akan muncul ke permukaan, meski dalam bentuk lain. Freud memandang bahwa mimpi merupakan "jalan istimewa menuju ketidaksadaran", karena melalui mimpi tersebut hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan tak sadar dapat diungkapkan. Beberapa motivasi sangat tidak dapat diterima oleh seseorang,sehingga akhimya diungkapkan dalam bentuk yang disamarkan atau disimbolkan dalam bentuk yang berbeda.

 

Sumber

 

Prof. Dr. Singgih O. Gunarsa, Konseling dan Psikoterapi. 2004, Jakarta. PT BPK Gunung Mulia. 

 

Feist, J. Feist, G. J. Teori Kepribadian. Jakarta. Salemba Humanika. 


Papalia, D. E. Olds, S. W. Feldman, R. D. Human Development (Perkembangan Manusia). 2009. Jakarta. Salemba Humanika

 

http://atpsikologi.blogspot.com/2010/02/kesadaran.html?m=1

 

http://pasukananxiety.blogspot.com/2013/03/terapi-psikoanalisis-dan-humanistik.html?m=1

 

 

 

 

PAIKOTERAPI TUGAS II (Artikel 3)

Terapi person centered merupakan model terapi berpusat pribadi yang dipelopori dan dikembangkan oleh psikolog humanistis Carl R. Rogers. Ia memiliki pandangan dasar tentang manusia, yaitu bahwa pada dasarnya manusia itu bersifat positif, makhluk yang optimis, penuh harapan, aktif, bertanggung jawab, memiliki potensi kreatif, bebas (tidak terikat oleh belenggu masa lalu), dan berorientasi ke masa yang akan datang dan selalu berusaha untuk melakukan self fullfillment (memenuhi kebutuhan dirinya sendiri untuk bisa beraktualisasi diri). Filosofi tentang manusia ini berimplikasi dan menjadi dasar pemikiran dalam praktek terapi person centered. Menurut Roger konsep inti terapi person centered adalah konsep tentang diri dan konsep menjadi diri atau pertumbuhan perwujudan diri.


Berdasarkan sejarahnya, terapi yang dikembangkan Rogers ini mengalami beberapa perkembangan. Pada mulanya dia mengembangkan pendekatan konseling yang disebut non-directive counseling (1940). Pendekatan ini sebagai reaksi terhadap teori-teori konseling yang berkembang saat itu yang terlalu berorientasi pada konselor atau directive counseling dan terlalu tradisional. Pada 1951 Rogers mengubah namanya menjadi client-centered therapy sehubungan dengan perubahan pandangan tentang konseling yang menekankan pada upaya reflektif terhadap perasaan klien. Kemudian pada 1957 Rogers mengubah sekali lagi pendekatannya menjadi konseling yang berpusat pada person (person centred therapy), yang memandang klien sebagai partner dan perlu adanya keserasian pengalaman baik pada klien maupun terapis. Terapi ini memperoleh sambutan positif dari kalangan ilmuwan maupun praktisi, sehingga dapat berkembang secara pesat. Hingga saat ini, terapi ini masih relevan untuk dipelajari dan diterapkan.


Pendekatan terapi person centered menekankan pada kecakapan klien untuk menentukan isu yang penting bagi dirinya dan pemecahan masalah dirinya. Terapi ini berfokus pada bagaimana membantu dan mengarahkan klien pada pengaktualisasian diri untuk dapat mengatasi permasalahannya dan mencapai kebahagiaan atau mengarahkan individu tersebut menjadi orang yang berfungsi sepenuhnya. Konsep pokok yang mendasari adalah hal yang menyangkut konsep-konsep mengenai diri (self), aktualisasi diri, teori kepribadian, dan hakekat kecemasan.


Terapi ini cocok untuk orang-orang dengan masalah psikologis yang ada ketidakbahagiaan dalam dirinya, mereka biasanya akan mengalami masalah emosional dalam hubungan dikehidupannya, sehingga menjadi orang yang tidak berfungsi sepenuhnya. Contohnya orang-orang yang merasakan penolakan dan pengucilan dari yang lain, pengasingan yakni orang yang tidak memperoleh penghargaan secara positif dari orang lain, ketidakselarasan antara pengalaman dan self (tidak kongruensi), mengalami kecemasan yang ditunjukkan oleh ketidakkonsistenan mengenai konsep dirinya, defensive, dan berperilaku yang salah penyesuaiannya.


Sumber:

 

https://nurainiajeeng.wordpress.com/2013/03/30/person-centered-therapy/

 

PSIKOTERAPI TUGAS II (Artikel 2)

Istilah psikologi humanistik (Humanistic Psychology) diperkenalkan oleh sekelompok ahli psikologi yang pada awal tahun 1960-an bekerja sama di bawah kepemimpinan Abraham Maslow dalam mencari alternatif dari dua teori yang sangat berpengaruh atas pemikiran intelektual dalam psikologi. Kedua teori yang dimaksud adalah psikoanalisis dan behaviorisme. Maslow menyebut psikologi humanistik sebagai “kekuatan ketiga” (a third force).


Teori eksistensial-humanistik menekankan renungan filosofi tentang apa artinya menjadi manusia. Banyak para ahli psikologi yang berorientasi eksistensial,mengajukan argumen menentang pembatasan studi tingkah laku pada metode-metode yang digunakan oleh ilmu alam.


Terapi eksistensial berpijak pada premis bahwa manusia tidak bisa lari dari kebebasan dan bahwa kebebasan dan tanggung jawab berkaitan. Dalam penerapan-penerapan terapeutiknya eksistensial-humanistik memusatkan perhatian pada filosofis yang melandasi terapi. Pendekatan atau teori eksistensial-humanistik menyajikan suatu landasan filosofis bagi orang berhubungan dengan sesama yang menjadi ciri khas, kebutuhan yang unik dan menjadi tujuan konselingnya, dan yang melalui implikasi-implikasi bagi usaha membantu dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan dasar yang menyangkut keberadaan manusia.


Pendekatan Eksistensial-humanistik berfokus pada diri manusia. Pendekatan ini mengutamakan suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia. Pendekatan Eksistensial-Humanistik dalam konseling menggunakan sistem tehnik-tehnik yang bertujuan untuk mempengaruhi konseli. Pendekatan terapi eksistensial-humanistik bukan merupakan terapi tunggal, melainkan suatu pendekatan yang mencakup terapi-terapi yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep-konsep dan asumsi-asumsi tentang manusia.


 Sumber:

https://deathneverlost.wordpress.com/2014/05/21/terapi-humanistik-eksistensial/

PSIKOTERAPI TUGAS II (Artikel 1)

PSIKOTERAPI TUGAS II (Artikel 1)

Terapi Psikoanalisis 

Psikoanalisis adalah suatu sistem dalam psikologi yang berasal dari penemuan-penemuan Freud dan menjadi dasar dalam teori psikologi yang berhubungan dengan gangguan kepribadian dan perilaku neurotik. Psikoanalisis memandang kejiwaan manusia sebagai ekspresi dari adanya dorongan-dorongan yang menimbulkan konflik. Dorongan-dorongan ini sebagian disadari dan sebagian besar lagi tidak disadari. Konflik timbul karena ada dorongan-dorongan yang saling bertentangan, sebagian manifestasi dari kenyataan bahwa manusia adalah makhluk sosial didampingi biologis. Berfungsinya aspek psikis karena itu ada kaitannya dengan nilai-nilai yang ada di lingkungan, yang pada psikoanalisis memandang lingkungan keluarga sebagai sumber utama dan aspek-aspek yang ada kaitannya dengan tubuhnya.

Psikoanalisis sebagian teori dari psikoterapi berasal dari uraian Freud bahwa gejala neurotik lada seseorang timbul karena tertahannya ketegangan emosi yang ada, ketegangan yang ada kaitannya dengan ingatan yang ditekan, ingatan mengenai hal-hal traumatik dari pengalaman seksual pada masa kecil. Semula dipergunakan teknik hipnosis, namun setelah diketahui bahwa tidak bisa dilakukan terhadap semua orang, Freud kemudian menggunakan asosiasi bebas. Dengan asosiasi bebas, pasien bebas untuk mengemukakan segala hal yang ingin dikemukakan termasuk yang tadinya ditekan di bawah-sadarnya, tanpa di hambat atau di kritik. Namun timbul masalah lain karena dalam kenyataannya tidak semudah yang disangka, sehubungan dengan adanya rasa bersalah mekanisme pertahanan diri yang tentunya bisa menghambat pelaksanaan asosiasi bebas. Teknik dasar melakukan psikoanalisis adalah meminta pasien berbaring di dipan khusus dan psikoanalisis duduk di belakang pasien, jadi posisi pasien menghadap ke arah lain, tidak bertatapan dengan psikoanalisisnya. Pasien diminta untuk mengemukakan apa yang muncul dalam pikirannya dengan bebas, tanpa merasa terhambat, tertahan dan tanpa harus memilih mana yang dianggap penting atau tidak penting. Psikoanalisis yang duduk di belakang dipan khusus, lada dasarnya hanya mendengarkan tanpa menilai atau memberi kritik yang memperlihatkan sikap ingin mengetahui lebih banyak tentang pasien. Namun pada saat-saat tertentu, psikoanalisis memotong asosiasi bebas yang sedang dikemukakan oleh pasien, bilamana dianggap penting untuk memperjelas hubungan-hubungan antara asosiai-asosiasi satu sama lain, misalnya yang ada kaitannya dengan mimpi-mimpi yang dialami. Proses selanjutnya berlangsung seperti format psikoterapi biasa yang selalu didahului dengan tahap pembukaan untuk mengetahui berbagai hal mengenai pasien, antara lain melalui wawancara pendahuluan yang dilakukan secara tatap muka. Dari psikoanalisis yang berlangsung, hal uang penting ialah masalah  tranferens. Transferens dalam arti sebenarnya adalah suatu bentuk ingatan dari kejadian-kejadian yang telah dialami dan yang diulang kembali dalam keadaan sekarang atau yang akan datang. Pada saat seperti itu, pada saat pasien sedang menghubung-hubungkan hambatan yang dialami dengan konflik yang terjadi di bawah sadar mengenai harapan-harapan terhadap seseorang atau beberapa orang yang penting dalam hidupnya, gejala baru akan muncul dan menimbulkan kesan bercampur-baur, antara lain karena kejadian psikoanalisisnya. Inilah saat-saat kritis, karena pasien harus menghadapi hal-hal yang idealistis sesuai dengan yang diinginkan, namun ia harus menghadapi kenyataan sebagai sesuatu yang tidak mungkin dipenuhi. Psikoanalisis harus tetap bertindak sebagai profesional dan bukan sebagai pribadi, agar menghindari kemungkinan terjadinya "counter-transference". Atas dasar inilah antara lain ditentukan sebagai psikoanalisis, seseorang harus menjalani dulu analisis yang dilakukan oleh psikoanalisis yang berkompeten. Bahkan dikatakan bahwa keberhasilan seseorang bertindak sebagai psikoanalisis, banyak ditentukan oleh keadaan pada waktu ia sendiri menjalani psikoanalisisnya. 


Sumber:

Prof. Dr. Singgih O. Gunarsa, Konseling dan Psikoterapi 2004, Jakarta. PT BPK Gunung Mulia. 

Selasa, 17 Maret 2015

PSIKOTERAPI TUGAS I (Artikel 3)

PSIKOTERAPI TUGAS I (Artikel 3)

Menurut Mappiare ada sejumlah perbedaan psikoterapi dan konseling yang dikemukakan sebagai berikut:
1. Konseling merupakan bagian dari psikoterapi. Psikoterapi merupakan bagian yang lebih
luas dari pada konseling.
2. Konseling lebih mengarah pada penyebab atau awal masalah. Selanjutnya konseling lebih
mengarah pada pengembangan-pendidikan-pencegahan. Berbeda dengan psikoterapi yang
mengarah penyembuhan-penyesuaian-penyembuhan.
3. Dasar konseling adalah filsafat manusia. Dasar dari psikoterapi adalah perbedaan individual dengan dasar-dasar psikologi kepribadian dan psikopatologi. Pada perkembangan selanjutnya konseling juga memanfaatkan perkembangan teori-teori
kepribadian dalam konteks ilmu perilaku.
4. Dijelaskan oleh Narayana Rao bahwa tujuan antara konseling dan psikoterapi sama, namun keduanya berbeda dalam proses pencapaiannya. Psikoterapi mencapainya dengan cara ‘pembedahan’ psikis dan pembedahan otak. Proses konseling lebih mengarah pada identifikasi dan kekuatan-kekuatan positif yang dimiliki klien, agar klien lebih maksimal dalam kehidupannya.

Penjelasan Terhadap Mental Illness
Biological
Penyebab secara biological adalah keturunan, lalu ada jasmaniah, beberapa penyidik berpendapat bentuk tubuh seseorang berhubungan dengan gangguan jiwa tertentu. Tempramen , orang yang terlalu peka/sensitif biasanya mempunyai masalah kejiwaan dan ketegangan yang memiliki kecenderungan mengalami gangguan jiwa. Yang terakhir penyakit dan cedera tubuh, penyakit tertentu misalnya penyakit jantung, kanker dan lain sebagainya mungkin menyebabkan seseorang menjadi murung dan sedih. Demikian pula cedera/cacat tubuh tertentu dapat menyebabkan rasa rendah diri.

Psychological
Bermacam pengalaman frustasi, kegagalan dan keberhasilan yang dialami akan mewarnai sikap, kebiasaan dan sifatnya kemudian haru. Hidup seorang manusia dapat dibagi atas 7 masa dan pada masa tertentu dapat mendukung terjadinya gangguan jiwa.
- Masa bayi
- Masa anak pra sekolah (2-7 tahun)
- Masa anak sekolah
- Masa remaja
- Masa dewasa muda
- Masa dewasa tua
- Masa tua

Sosiological
Kebudayaan secara teknis adalah ide atau tingkah laku yang dapat dilihat maupun yang tidak terlihat. Faktor budaya bukan merupakan penyebab langsung menimbulkan gangguan jiwa. Biasanya terbatas menentukan "warna" gejala-gejala. Di samping mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan kepribadian seseorang misalnya melalui aturan-aturan kebiasaan yang berlaku dalam kebudayaan tersebut.
Menurut Santrock berikut ini adalah beberapa faktor kebudayaan:
- Cara membesarkan anak
- Sistem nilai
- Kepincangan antara keinginan dengan kenyataan yang ada
- Ketengangan akibat faktor ekonomi dan kemajuan teknologi
- perpindahan kesatuan keluarga
- Masalah golongan minoritas 

Philosophic
Gangguan jiwa atau mental illness adalah kesulitan yang harus dihadapi oleh seseorang karena hubungannya dengan orang lain, kesulitan karena persepsinya tentang kehidupan dan sikapnya terhadap dirinya sendiri. Gangguan jiwa adalah gangguan dalam cara berpikir (cognitive), kemauan (volition), emosi (affective) dan tindakan (psychomotor)

Bentuk-bentuk Terapi
Terapi Supportive
Terapi Supportive adalah bentuk terapi alternatif yang mempunyai tujuan untuk menolong pasien untuk beradaptasi dengan baik terhadap suatu masalah yang dihadapi dan untuk mendapatkan suatu kenyamanan hidup terhadap gangguan psikisnya. Tetapi Supportive menawarkan dukungan kepada pasien oleh seorang tokoh yang berkuasa selama periode penyakit, kekacauan atau dekompensasi sementara. Pendekatan ini mempunyai tujuan untuk memulihkan dan memperkuat pertahanan pasien dan mengintegritaskan kapasitas yang terganggu. Cara ini memberikan suatu periode penerimaan dan ketergantungan bagi pasien yang membutuhkan bantuan untuk menghadapi rasa bersalah, malu dan kecemasan dalam menghadapi frustasi atau tekanan eksternal yang mungkin terlalu kuat untuk dihadapi.

Tetapi Reeducative
Terapi Reeducative untuk mencapai pengertian tentang konflik-konflik yang letaknya lebih banyak di alam sadar, dengan usaha berencana untuk menyesuaikan diri, memodifikasi tujuan dan membangkitkan serta menggunakan potensi-potensi kreatif yang ada

Terapi Reconstructive
Terapi Reconstructive adalah terapi untuk menyelami alam tidak sadar melalui teknik seperti asosiasi bebas, interpretasi mimpi, analisis daripada transferensi. Terapi ini untuk mencapai pengertian tentang konflik-konflik yang kerjanya di alam tidak sadar, dengan usaha untuk mendapatkan perubahan yang luar daripada struktur kepribadian dan penghiasan pertumbuhan kepribadian dengan pengembangan potensi penyesuaian diri yang baru. 

Sumber:

PSIKOTERAPI TUGAS I (Artikel 2)

PSIKOTERAPI TUGAS I (Artikel 2)

Perbedaan Psikoterapi dan Konseling
Perbedaan Psikoterapi dan Konseling disimpulkan oleh Pallone dan Pettersone yang dikutip oleh Thompson dan Rudoplh adalah sebagai berikut:

Konseling:
1. Sebutan untuk yang datang ke konseling adalah klien
2. Untuk gangguan yang kurang serius 
3. Masalah yang dihadapi adalah masalah jabatan dan pendidikan
4. Konseling berhubungan dengan pencegahan
5. Lingkunagnnya adalah pendidikan dan non medis
6. Berhubungan dengan kesadaran
7. Menggunakan metode pendidikan

Psikoterapi:
1. Sebutan untuk yang datang untuk psikoterapi adalah pasien
2. Untuk gangguan yang serius
3. Masalah yang dihadapi adalah masalah kepribadian dan pengambilan keputusan
4. Psikoterapi berhubungan dengan penyembuhan
5. Lingkungannya adalah lingkungan medis
6. Berhubungan dengan ketidak sasaran
7. Menggunakan metode penyembuhan 

Pendekatan Terhadap Mental Illness
1. Pendekatan Client Centered
Pendekatan Client Centered dikemukakan oleh Carl Rogers yang menurutnya klien harus menentukan arah pembicaraan dan sesi. Rogers juga berasumsi bahwa keputusan klien tidak hanya membuat mereka akan mencapai kebahagiaan, namun juga membuat mereka menjadi orang yang baik dan beradab. Klien itu sendiri yang nantinya akan bertanggung jawab terhadap keputusan apa yang mereka ambil.
2. Pendekatan Psikoanalisis
Pendekatan psikoanalisis dikemukakan oleh Sigmund Freud. Freud percaya bahwa berbagai bentuk psikopatologi diakibatkan oleh dorongan yang kuat, yang mengawali tahap perkembangan konflik yang tidak disadari terkait dengan tahap perkembangan psikoseksual tertentu. Freud berasumsi bahwa penyebab lingkungan dari masalah histerikal para pasiennya adalah penyiksaan seksual yang terjadi pada masa kanak-kanak. Dalam pendekatan psikoanalisis terdapat teknik teknik utama, yaitu: asosiasi bebas, asosiai mimpi, interpretasi dan analisis transferensi.
3. Pendekatan Kognitif 
Pendekatan kognitif berfokus pada bagaimana manusia menyusun berbagai pengalaman mereka, bagaimana mereka membuat pengalaman-pengalaman tersebut jadi masuk akal, dan bagaimana mereka menghubungkan berbagai pengalaman masa kini dengan pengalaman masa lalu yang disimpan dalam memori.

Bentuk Utama Terapi
1. Terapi Gestalt 
Terapi Gestalt menunjukkan bagaimana klien bisa dengan mudah lari dari saat sekarang dan memasuki masa lampau atau masa depan. 
2. Terapi Analisis Transaksional
Terapi Analisis Transaksional membatu klien dalam membuat keputusan-keputusan yang baru yang menyangkut tingkah lakunya sekarang dan arah hidupnya.
3. Terapi Tingkah Laku
Terapi Tingkah Laku menerapkan aneka ragam teknik dan prosedur yang berakar dari teori tentang belajar

Sumber:
Prof. Dr. Singgih O. Gunarsa, Konseling dan Psikoterapi 2004, Jakarta. PT BPK Gunung Mulia. 

PSIKOTERAPI TUGAS I (Artikel 1)

PSIKOTERAPI TUGAS I (Artikel 1)

Pengertian Psikoterapi
Psikoterapi berasal dari 2 kata Yunani yaitu "psyche" yang berarti "mind" atau jiwa, Dan "therapy" yang berarti merawat atau mengasuh. Jadi Psikoterapi adalah "perawatan terhadap aspek kejiwaan seseorang".

Tujuan Psikoterapi 
Adapun tujuan dari Psikoterapi dari beberapa pendekatan, adalah:
1. Menurut pendekatan Psikodinamik
Menurut Ivey, et al, tujuan psikoterapi menurut pendekatan psikodinamik adalah membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya di lakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.
2. Menurut pendekatan Psikoanalisis 
Menurut Corey, pendekatan psikoanalisis dirumuskan sebagai: membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien dalam menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang di tekankan melalui pemahaman intelektual.
3. Menurut pendekatan Rogerian
Terpusat pada pemahaman  Ivey et aI: untuk memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki seseorang untuk menemukan sendiri arahnya secara wajar dan menemukan dirinya sendiri yang nyata atau yang ideal dan mengeskplorasi emosi yang majemuk serta memberikan jalan bagi pertumbuhan dirinya yang unik.
4. Menurut pendekatan Behavioristik
Untuk menghilangkan kesalahan dalam belajar dan berprilaku dan untuk mengganti dengan pola-pola perilaku yang lebih bisa menyesuaikan.
5. Menurut teknik Dan metode Gestalt
Agar seseorang lebih menyadari mengenai kehidupannya dan bertanggung jawab terhadap arah kehidupan seseorang.

Unsur Psikoterapi
Adapun unsur dari psikoterapi adalah sebagai berikut:
1. Segi proses, berupa interaksi antar dua pihak, formal, profesional, legal, dan menganut kode etik psikoterapi.
2. Segi tujuan, untuk mengubah segi psikologis seseorang, mengatasi masalah psikologis atau meningkatkan potensi dan psikologis klien.
3. Segi tindakan, seorang psikoterapis melakukan tindakan terapi berdasarkan ilmu psikologis moderen yang sudah teruji keefektifannya.

Sumber: 
Prof. Dr. Singgih O. Gunarsa, Konseling dan Psikoterapi 2004, Jakarta. PT BPK Gunung Mulia.